Muhasabah buat kita semua kaum Muslimin...
Ust. Choirul Anam
Sebagaimana telah diketahui bahwa saat ini banyak sekali aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah Islam. Bukan hanya sekarang, adanya aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah Islam ini sudah ada semenjak ratusan tahun yang lalu, namun sekarang terasa lebih menonjol. Dari aspek motivasi, tentu sangat beragam, namun kita husnudz dzon bahwa motivasi mereka adalah untuk mencari ridlo Allah.
Diantara berbagai aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah islam, pasti ada titik persamaan, meskipun tak bisa dipungkiri ada beberapa titik perbedaan. Perbedaan yang terjadi memang lebih banyak dalam urusan furu', meskipun terkadang terjadi perbedaan terkadang pada wilayah yang qoth'i.
Suatu yang menggembirakan dari berbagai aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah islam adalah adanya usaha untuk berlomba dalam kebaikan (istibaq fil khoirot). Meskipun, terkadang terjadi sesuatu yang menyedihkan, yaitu saling merendahkan, menghina, menyesatkan, dan saling mengkufurkan. Terkadang ada yang merasa bahwa hanya kelompoknya yang ahlus sunnah wal jamaah, sementara yang lain bukan ahlus sunnah. Bahkan terkadang ada yang berkelompok, tapi merasa tidak berkelompok, lalu menuduh kelompok lainnya sebagai sesat karena berkelompok-kelompok.
Siapakah sebenarnya ahlus sunnah wal jamaah itu? Apakah kita harus berebut nama dan saling klaim sebagai ahlus sunnah wal jamaah? Apakah kita harus menuduh bahwa kelompok selain kita bukanlah ahlus sunnah wal jamaah?
Hal ini, insya Allah, akan kita bahas secara ringkas. Tulisan ini tidak hendak menghakimi siapa kelompok yang benar dan yang salah. Tulisan ini hanya akan meluruskan makna ahlus sunnah wal jamaah, sesuai dengan tempatnya.
*****
Sebelum membahas siapa sesungguhnya ahlus sunnah wal jamaah, ada pertanyaan yang menggelitik: wajarkah saling klaim bahwa kelompoknya adalah ahlus sunnah? Menurut saya, mengklaim sebagai AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH, itu sangat-sangat wajar. Sebab, sebagaimana sabda nabi, bahwa nanti umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan semua masuk neraka, kecuali satu yaitu al-jamaah (ahlus sunnah wal jamaah).
Hadits tersebut diantaranya adalah hadits sahih riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim berikut:
افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي. وفي بعض الروايات: هي الجماعة
Yang artinya kurang lebih: Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Nasrani terpecah menjadi 72 kelompok. Umat ini (Islam) akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali 1 (satu) golongan (yang selamat). Nabi ditanya, "Siapa dia ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Yaitu golongan yang seperti aku dan para Sahabatku." Dalam sebagian riwayat, "Dia adalah al jamaah."
Siapa yang tidak rindu surga? Siapa yang tak takut dengan neraka? Padahal kata kunci untuk masuk surga haruslah menjadi al-jamaah. Insya Allah, siapa saja yang mengklaim sebagai ahlus sunnah, mereka adalah orang baik yang merindukan surga. Insya Allah mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah.
Namun, tentu saja, untuk menjadi ahlus sunnah wal jamaah atau untuk masuk surga tidak cukup hanya dengan klaim. Klaim itu boleh-boleh saja, tetapi yang lebih penting haruslah diwujudkan menjadi amal nyata, dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat atau kehidupan bernegara.
*****
Tibalah kita untuk membahas siapakah sebenarnya al jamaah atau ahlus sunnah wal jamaah?
Sebenarnya, siapakah sebenarnya ahlus sunnah, itu tidak perlu dicari jauh-jauh dan susah-susah. Definisi al jamaah, DISEBUTKAN oleh Rasulullah dalam hadits beliau di atas. Saat para sahabat bertanya "Siapa dia ya Rasulullah?". Rasulullah memberikan definisi yang sangat jelas, yaitu beliau mengatakan: "Yaitu golongan yang seperti aku dan para Sahabatku." Di dalam hadits yang lain, beliau mengatakan: "Ma ana alaihi wa ashaabi (yaitu golongan yang mengikuti aku dan para Sahabatku."
Maksudnya siapapun dari umat muhammad yang mengikuti Rasullah dan para sahabat beliau, insya Allah mereka adalah kelompok yang masuk surga, dialah ahlus sunnah wal jamaah. Tentu saja, apapun nama jamaah atau organisasi yang dia aktif di dalamnya. Apakah mereka NU, Muhammadiyah, Salafy, Jamaah Tabligh, Ikwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, atau apapun namanaya, selama mereka berusaha sekuat tenaga mengikuti Allah, RasulNya, dan para Sahabat Nabi, insya Allah mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah.
Sebaliknya, siapapun mereka, meskipun mereka berada pada kelompok yang bernama ahlus sunnah wal jamaah, tetapi tidak mengikuti Allah, RasulNya dan para Shabat Nabi, maka mereka bukanlah ahlus sunnah wal jamaah.
Apakah ada umat Muhammad yang tidak mengikuti Allah, RasulNya dan para Shabat nabi? Tentu saja jumlahnya sangat banyak.
Diantara mereka ada yang mengikuti Allah, tetapi tidak mengikuti Rasulullah. Mereka ini orang yang ingkar sunnah.
Diantara mereka ada yang mengikuti Allah dan mengikuti sunnah, tetapi tidak mau mengikuti Shahabat Nabi, bahkan mereka mencela para Shahabat Nabi yang mulia. Kelompok ini muncul terutama mulai saat kekhilafahan zaman Sayyidina Ali. Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang mencela sahabatku, maka atasnya laknat Allah, laknat malaikat dan laknat seluruh umat manusia." Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu'jamul-Kabi (XII/142), Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah (II/483), Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (VII/103). Rasulullah juga bersabda, "Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya ada salah seorang dari kalian yang berinfak emas seberat gunung Uhud, maka tidak akan mengimbangi infak salah seorang di antara mereka, walaupun itu cuma satu mud/dua genggaman tangan, atau bahkan setengahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Diantara mereka ada yang menjadikan Allah, RasulNya dan Shahabat Nabi hanya sebagai simbul. Tetapi dalam keseharian tidak mau mengikuti Allah, RasulNya, dan Shahabat Nabi. Mereka lebih mengikuti orang-orang barat yang tak mengikuti Allah dan RasulNya. Ada juga yang tak mau mengakui Allah, RasulNya dan Para Sahabat Nabi. Mereka lebih percaya dengan orang-orang barat seperti Adam Smith, David Ricardo, Niccolo Maciavelli, Karl Marx, Vladimin Lenin, John Locke, JJ Rousseau, Friedrich Engels, Friedrich Hegel, Friedrich Nietzsche, Immanuel Kant, Bertrand Russel, John Stuart Mill, dan lain sebagainya. Ada juga yang mengikuti para filusuf Yunani seperti Aristoteles, Plato, Socrates, Democritus, Thales, Phytagoras, dan lain-lain.
Diantara mereka ada yang jadi pengikut para pendeta, para biksu, buddhis, para resi dan lain-lain. Ada juga yang menjadi pengikut tokoh-tokoh lokal, tanpa mempedulikan lagi kesuaian dengan Al Qur'an, As Sunnah dan ijma para Shahabat.
Mereka itu bukanlah ahlus sunnah wal jamaah. Seandainya, mereka mengklaim sebagai ahlus sunnah wal jamaah, maka klaim tersebut tidak ada artinya sama sekali.
****
Jika berbagai madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah islam itu memang mengikuti Allah, RasulNya, dan para Shahabat nabi, mengapa mereka bisa berbeda pendapat?
Jawabnya tentu saja bisa. Mereka semua adalah manusia yang memiliki pengalaman, tingkat intelektualitas, latar belakang, dan banyak hal yang berbeda. Juga dalam nash-nash sariah, juga banyak yang dzanny, yang memungkinkan dipahami berbeda. Selama perbedaan itu dalam masalah yang furu', maka tidak masalah dan tidak mengeluarkan mereka sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Namun, jika perbedaan mereka sampai pada masalah yang qoth'i, tentu sja mereka tidak bisa dikategorikan ahlus sunnah wal jamaah.
Kelompok ahmadiyah yang menganggap ghulam ahmad sebagai nabi, beberapa kelompok syiah yang menghina para shahabat Nabi, beberapa kelompok liberal yang menolak syariah Islam, dan lain sebagainya, tentu mereka bukan ahlus sunnah wal jamaah. Sebab, mereka berbeda dalam masalah yang qhot'i.
Sedangkan dalam masalah yang dzonny, maka perbedaan itu suatu hal yang wajar. Bahkan Shahabat mulia sekelas Abu Bakar dan Umar, beliau juga sering berbeda dalam masalah dzonny. Keduanya berbeda pandangan dalam masalah memerangi mereka yang ingkar membayar zakat. Mereka juga berbeda pendapat mengenai harta para tawanan yang diambil sebagai harta rampasan dan mengenai menjadikan istri-istri mereka sebagai budak. Mereka juga berbeda pandangan dalam hal pengiriman tentara Usamah bin Zaid, juga mengenai pergantian jabatan Khalid bin Walid ra. sebagai pemimpin tentara. Bahkan, walaupun Umar ra. mendesak penggantian jabatan Khalid bin Walid, Abu Bakar. enggan melakukannya. Namun ketika Umar. menjadi Khalifah, ia langsung mencopot jabatan Khalid ra. dan menggantikannya.
Perbedaan pendapat di kalangan para shahabat, bahkan sudah ada sejak Nabi masih hidup. Sebagaimana perbedaan mereka dalam menyikapi perintah Nabi pada waktu Perang Ahzab untuk tidak shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah, sebagian mereka masih di perjalanan ketika masuk waktu Ashar. Sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka tidak akan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah sesuai perintah Nabi tersebut. Sedangkan, sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka harus shalat karena menurut pemahaman mereka, perintah Nabi itu bertujuan agar mereka mempercepat jalannya sehingga dapat shalat Ashar di Bani Quraizhah, bukan harus shalat di tempat itu. Para sahabat berpegang pada kode etik yang kuat dalam menghadapi perbedaan di kalangan mereka, yaitu keputusan finalnya diserahkan kepada Nabi. Pada kasus itu Nabi SAW membenarkan kedua pendapat tersebut.
Jadi, meskipun ada perbedaan madzhab, kelompok, organisasi, dan harokah Islam, tentu tidak mengeluarkan mereka dari ahlus sunnah wal jamaah, selama mereka tetap berpegang teguh sekuat tenaga kepada Allah, Rasulnya, dan para Shahabat Nabi yang mulia.
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang hidup sepeninggalku maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafa' ar-Rasyidin yang berpetunjuk. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih).
Ikutilah Allah, Rasulullah dan Khulafa' ar-Rasyidin itulah yang menjadikan kita sebagai ahlus sunnah atau bukan. Mengikuti di sini, tentu dalam semua aspek kehidupan. Bukan hanya dalam masalah sholat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi semua aspek kehidupan, termasuk dalam masalah politik dan pemerintahan. Ikutilah Allah, RasulNya dan para Sahabat, tidak perlu saling klaim.
Maka, sungguh aneh, jika ada umat yang mengaku ahlus sunnah wal jamaah, tetapi justru menolak khilafah. Padahal ahlus sunnah wal jamaah pasti mengikuti khulafa' ar-rasyidin dan menggigit dengan gigi gerahamnya agar tidak lepas dari mengikuti para khalifah yang rasyidin tersebut.
Wallahu a'lam.







0 comments:
Post a Comment