![]() |
| fajar.co.id |
Saat menjabat Kapolda NTB, Umar dikenal sebagai Pati yang humanis, religius serta inspiratif. Di setiap kesempatan Umar tak segan turun langsung ke lapangan. Bahkan sampai ke pelosok desa.
Sikap terpuji Umar sering menui pujian warga nitizen. Termasuk saat ia membopong korban kecelakaan pada 1 Januari 2016. Kala itu sepulang meninjau anggotanya yang berdinas mengamankan tahun baru 2016, Umar Septono melihat kecelakaan di Jalan Lingkar Selatan Mataram. Tiga orang tergeletak.
Umar lalu memerintahkan sopir mobil dinasnya putar balik menuju ke lokasi kecelakaan. Yang dilakukannya kemudian adalah turut mengevakuasi korban kecelakaan. Dia juga memerintahkan ajudannya menyetop mobil yang lewat, untuk minta tolong agar membawa korban ke rumah sakit Rumah Sakit Bhayangkara.
Dia membopong seorang bocah korban kecelakaan dan memasukkan ke sebuah mobil. Pada sore harinya, Umar menjenguk korban kecelakaan itu di rumah sakit dan menanggung seluruh biayanya.
Di kesempatan lain Umar terpaksa naik sepeda motor untuk mengejar waktu shalat untuk shalat berjamaah.
Sikap religius Umar ini ditandai dengan tindakannya yang selalu berusaha salat lima waktu di awal waktu dan berjemaah di masjid. "Lima waktu saya di awal waktu, berjemaah di masjid, di saf depan sebelah kanan. Itu harga mati!" pidato Umar Septono yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Sikapnya ini dia pegang teguh. Umar, misalnya, pernah buru-buru meninggalkan undangan festival di Senggigi yang dihadiri ribuan masyarakat, untuk mengejar salat berjemaah di masjid.
Karena jalanan macet akibat banyaknya pengunjung festival, Umar pun meminta anak buahnya memboncengnya dengan motor menuju ke masjid terdekat agar tidak ketinggalan salat berjemaah di awal waktu.
Umar juga dikenal sering memberikan tausiyah dan tak segan untuk dekat dan mencari inspirasi yang positif dari anak buahnya.
Meski dua bintang berada di pundaknya, Umar tak sungkan memberi reward kepada anak buahnya yang berani menghentikan mobilnya. Persitiwa itu terjadi pada 27 Juni 2016. Dua orang polisi dipanggil untuk berdiri di belakang Kapolda NTB Umar Septono dalam sebuah apel.
Dua prajurit berpangkat brigadir itu mendapat apresiasi karena tak takut menghentikan mobil dinas Kapolda NTB di kawasan bypass Bandara Internasional Lombok.
Brigadir itu menghentikan mobil dinas atasannya untuk memberikan kesempatan kepada seorang nenek pembawa kelapa untuk menyeberang jalan.
"Kenapa dia tidak takut. Sebab dia mempertanggungjawabkan tugasnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia tahu, nasibnya tergantung kepada Tuhan, bukan kepada Kapolda," ujar Umar, lantang dalam suatu apel di Mapolda NTB.
Menjelang akhir masa dinasnya sebagai Kapolda NTB, Umar Septono mendatangi anggota Bhabinkamtibmas di pelosok Bima yang mendirikan pesantren dengan menyisihkan sebagian gajinya. Umar mengaku dirinya belum mampu membuat pesantren seperti yang dilakukan prajurit tersebut. Ia mengaku itu akan menjadi motivasi baginya.
Di kesempatan lain, Umar yang masih berpakain dinas lengkap pun tidak malu mengangkat barang. ''Prinsip saya, semakin kita merendahkan hati, semakin tinggi derajat kita. Itu yang harus diingat," ujarnya suatu ketika.
Saat menjabat Kapolda NTB, berbagai terobosan dilakukan Umar. Salah satunya menginisiasi gerakan empati Rp 1000 di Polda NTB untuk disumbangkan kepada masyarakat yang kekurangan. Gerakan ini juga merupakan wujud nyata dari revolusi mental.
"Seribu rupiah tidak ada artinya. Tapi begitu kita kumpulkan, sangat besar dan manfaatnya untuk masyarakat yang membutuhkan. Inilah bagian dari gerakan revolusi mental," ujar Umar.
Sikap sebagai seorang Bhayangkara sejati memang selalu ditunjukan Irjen Umar. Setelah tidak menjabat Kapolda NTB, ia mendapat promosi sebagai Kakor Sabara Kabarham Polri dengan pangkat inspektur jenderal.
Suatu ketika mobilnya ditabrak oleh seorang pemgendara. Saat itu Irjen Umar tengah memantau arus mudik Juni 2017 lalu. Umar bukannya marah. Ia malah menemui penabrak mobil dinasnya di rumah penabrak bernama Suyatim di Bogor. Ini membuat publik teringat pada kesantunan sang jenderal di masa lalu.
Fotonya menemui Suyatim menjadi viral dan menuai pujian. Netizen mengapresiasi Umar Septono yang rendah hati. Selain sikap santun Sang jenderal yang disebutkan di atas, masih banyak lagi pemikiran, sikap, tindakan, dan perbuatan Umar Septono yang inspiratif dan mendapat pujian masyarakat.
Kini Kapolri Jendral Tito Karnavian mengamanahkan tugas baru kepada Irjen Umar Septono sebagai Kapolda Sulsel menggantikan rekan seangkatannya, Irjen Muktiono.







0 comments:
Post a Comment