By: azwar siregar
Kemarin singgah di Beranda Ustadz Zulfikri Kuala. Saya tertarik dengan berita yang beliau Share, Bupati Aceh Besar tempat Bandara Sultan Iskandar Muda berada, mewajibkan seluruh Pramugari Maskapai Penerbangan yang melintasi wilayah Aceh Besar memakai busana sesuai Syariah.
Seluruh Maskapai Penerbangan tanpa terkecuali, baik plat merah maupun plat kuning langsung mematuhinya.
Sungguh luar biasa, Mulai Garuda milik Pemerintah sampai Maskapai Lion Air yang menguasai Udara Nusantara juga tidak berkutik dan langsung tunduk menyerah, tentu saja mereka tidak punya pilihan kecuali mau menurunkan Kru Pesawatnya di Udara.
Saya melihat betapa sebuah kekuasaan khususnya di eksekutif mampu untuk membuat peraturan yang bisa melindungi marwah suatu daerah, dalam hal ini wilayah Aceh sebagai Serambi Mekkah-nya Indonesia.
Saya jadi teringat, bagaimana jaman sekarang banyak orang-orang termasuk tokoh-tokoh agama yang dijadikan panutan justru berusaha memisahkan agama dengan politik.
Padahal politik adalah satu-satunya jalan untuk memegang kekuasaan.
Ketika kekuasaan dipegang oleh orang yang tidak perduli apalagi anti agama, jadilah Monas dilarang untuk tempat berzikir tapi terbuka untuk konser dan hura-hura.
Kota Jakarta yang sejak Indonesia Merdeka menjadikan takbir keliling sebagai budaya, tiba-tiba saja dilarang dengan alasan mengganggu ketertiban tapi anehnya dimalam pergantian tahun, segala kembang api dan pawai justru di izinkan, bahkan didukung dan didanai untuk membuat keributan.
Ini sebagian contoh kalau orang yang beriman perlu menguasai kekuasaan lewat politik.
Jangan sampai umat terlalu lugu dengan permaianan kata dari mereka, "Pisahkan politik dengan agama".
Makanya saya dulu tertawa, ketika ada Partai agama bahkan dengan simbol Kabah mendukung si anti agama, alasan-nya sudah ada kontrak yang mewajibkannya perduli kepada Islam.
Sialan, sejak kapan Setan perduli dengan Islam,kawan ?
Sama saja menurutku menawarkan tangan kepada buaya yang kelaparan tapi masih terikat, begitu si Buaya kamu beri keleluasaan dan kekuasaan, bukan hanya tangan yang akan di makan, sampai kepala pun akan habis dikunyah si Buaya.
Kalau mau tahu jenis politikus penjual agama, yah mereka!
Sebaliknya begitu kekuasaan dipegang oleh orang yang perduli agama, hanya dengan secarik kertas dan tanda tangan, tempat maksiat langsung tutup tidak perlu pakai ribut. Tidak perlu pasukan FPI yang saya yakin andai mereka Demo sampai tujuh turunan, belum tentu masalah bisa selesai.
Malah bisa-bisa para pendemo dikriminalisasi dan masuk bui.
Tapi dengan kekuasaan, cukup satu goresan tanda tangan dan hanya butuh waktu kurang dari satu jam, semua masalah selesai.
Di tangan Pemimpin yang beriman, kekuasaan akan dipandang jadi beban karena harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan, tapi ditangan manusia yang tidak perduli agama, kekuasaan akan dijadikan alat untuk memuaskan syahwat dan melayani Setan.
Jadi kalau anda tidak ingin Para Ulama di kriminalisasi lagi, ayo kita #rebut2019 nanti. Kalau anda sudah cukup makan hati, kesucian Islam berulangkali dilecehkan, Ayo jangan golput di 2019, sahabat.
Mari kita satukan langkah dan rapatkan barisan, termasuk di Pilkada Serentak tahun ini. Pilih calon dari Parpol yang menurut nuranimu perduli agama, Parpol menurut saya yang harus jadi pertimbangan paling utama, karena sebaik-baik calon kalau di Perahu yang salah akan tetap tidak berdaya membela agama.
Terakhir, andai tragedi pembunuhan beberapa ulama terjadi dijaman Shalahuddin Al-ayyubi, saya yakin tidak sampai satu hari semua yang bertanggung jawab akan diadili.
Tapi di rezim omong kosong, justru rakyatnya hanya akan sibuk dan ribut memuja sandal jepit dan kaos oblong!
#KomunitasKomunikasiCintaIndonesia
#Rebut2019







0 comments:
Post a Comment