Sekitar sepekan yang lalu, Bro Dewa Eka Prayoga mengirimkan naskah digital Novel "Bidadari untuk Dewa". Saya diberi kehormatan untuk mengisi ruang testimoni.
Entah mengapa Saya gak tertarik untuk memberikan testimoni atas Novel ini.
Testimoni adalah kesaksian.
Nampaknya, Saya lebih pas memberikan testimoni atas kehidupan yang dijalani oleh Dewa dan Wiwin Supiyah.
Dan semoga testimoni tidak berada pada ruang testimoni, tetapi berada pada ruang pengantar dari Novel. Hehehehe... ngelunjak.
Awal perkenalan Saya dengan Dewa tidak begitu intens. Kami bertemu alakadarnya di sebuh event pelatihan untuk para Trainer. Yang menjadi menarik adalah pemicu kedekatan kami berdua, seorang sahabat yang berusia 5 tahun lebih muda dari Saya ini kemudian harus berhadapan dengan maslaah yang besar.
"Kang, bisa ketemuan, kacau kang... mitra Saya lari..."
Sekalimat itu hadir di BB Saya saat itu. Selintas Saya langsung memahami apa yang sedang dihadapi oleh Dewa.
"Oke, tenang, kita ketemuan..."
Benar saja, gulungan masalah menghadang. Bahkan kejadian ini terjadi sepekan setelah mereka menikah. Apa yang awalnya dikumpulkan habis dengan perlahan. Keduanya harus memulai dari minus, bukan lagi dari nol.
Serasa semua orang menjauh.
Serasa semua orang menyalahkan.
Serasa semua orang tidak peduli.
Itulah mungkin yang dirasakan kedua pasangan muda ini. Saya hanya bisa terus menemani, menyediakan ruang di komunitas Muda Mulia, memberinya panggung untuk bereskpresi, dan terus menyuntikkan keyakinan bahwa semua ini akan dapat dilalui.
Adalah Wiwin Supiyah. Wanita yang ditakdirkan langit untuk membersamai sosok Dewa yang penuh badai ujian.
Adalah Wiwin Supiyah. Wanita yang diperankan semesta untuk menjalani apa yang tidak akan pernah didambakan oleh seorang istri.
Adalah wiwin Supiyah. Sosok wanita yang kemudian menjadi teman batin seorang Dewa. Yang penuh gundah, penuh guncangan, penuh cobaan, penuh terpaan.
Ada sejuta alasan bagi Wiwin untuk meninggalkan Dewa.
Ada setumpuk pembenaran bagi Wiwin untuk berpisah dengan suami "junior" yang penuh badai ini.
Ada sekuintal data riset ilmiah, yang menunjukkan bahwa masalah keuangan yang dihadapi Dewa tidak akan ada solusinya.
Tetapi seorang Wiwin memilih untuk tetap tegar.
Tetapi seorang Wiwin memilih untuk tetap bersama.
Tetapi seorang Wiwin memilih untuk menerima.
Itulah Bidadari untuk Dewa. Bukan cuma pada maslaah keuangan, Saya menjadi saksi mata akan bagaimana Wiwin berjuang menemani kesembuhan Dewa saat terkena GBS. Berbulan bulan di Rumah Sakit tentu tidak mudah bagi seorang Wiwin.
Bidadari ini terus berdoa, terus menemani. Wiwin menelpon satu demi satu Sahabat Dewa saat beliau kritis. Saat itu Saya berada di Canbera, hanya mampu mendengar isak tangis seorang Bidadari yang memohon doa dan maaf bagi sang Suami. Dramatis banget. Udah kayak film India.
Itulah Wiwin Supiyah. Bidadari yang kini secara sederhana mendampingi seorang sosok yang hari ini telah mencapai apa yang dahulu Saya pun tidak bisa membayangkan.
Klasik memang : disamping sosok yang besar, ada seorang wanita kuat yang menemani.
Kisah mereka kemudian dinovelkan. Gak sembarangan, yang menulis adalah seorang Novelis hebat Asma Nadia. Dan konon, ini Novel paling tebal yang pernah ditulis oleh Mbak Asma. Nampaknya, seorang Asma pun harus terbawa alur emosi yang kuat dalam menyelesaikan Novel ini.
Saya meyakini, bahwa hadirnya Novel ini di kehidupan Anda bukanlah sebuah kebetulan. Bagi Saya, hadirnya Novel ini di kehidupan adalah jawaban dari berbagai doa yang Anda panjatkan.
Allah sedang mengarahkan Anda belajar pada "ayat-ayat" semestaNya yang teramat nyata.
Allah sedang mengajarkan Anda tentang bagaimana sepasang manusia meniti jalan iman yang sebenarnya.
Allah sedang mengajarkan Anda tentang bagaimana jalan keyakinan harusnya ditempuh.
Allah sedang mengajarkan Anda tentang bagaimana Allah bekerja menolong HambaNya.
Selamat membaca.
Selamat menyelami.
Selamat meraih mutiara.
Rendy Saputra
Kakaknya Dewa dan Wiwin
Testimoni lain ada disini
Kalau mau pesen langsung WA : Rizal Ardianto [0813 9021 7739]









0 comments:
Post a Comment