Ngarep Sama Allah

Wednesday, August 23, 2017

KERIBUTAN NASIONAL TENTANG PATUNG PANGLIMA ATAU DEWA PERANG TIONGKOK-MONGOL DI TUBAN


🌏 RENUNGAN AKAN KERIBUTAN NASIONAL TENTANG PATUNG PANGLIMA ATAU DEWA PERANG TIONGKOK-MONGOL DI TUBAN 🇮🇩

Saudara sebangsa SETANAH AIR!

MERDEKA!

Bukalah buku-buku pelajaran Sejarah Nasional dan Dunia yang tak berubah sejak dulu, tentang hubungan Tiongkok dan Nusantara! 

Silahkan periksa!

Sungguh, singkat cerita, Kubilai Khan yang dari Mongolia saat itu bertahta di Tiongkok, setelah menaklukannya, juga menaklukkan wilayah sekitarnya. Ekspansi ke Cina ini, sudah dimulai sejak jaman Jengis Khan, Ogodai Khan, Guyuk Khan, Mongke Khan, pendahulunya. Di masa Kubilai Khan, seluruh Tiongkok dikuasainya, dia mendirikan Dinasti Yuan. Dan kaum amat banyak lelaki Mongol menikahi atau memperkosa perempuan Tiongkok, maka praktis kaum Cina sekarang, keturunan mereka juga.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kublai_Khan

Dan Kubilai Khan hendak menaklukkan Nusantara. Namun gagal.

Kubilai Khan Penguasa Tiongkok, Mongol, dan wilayah lain yang luas, saat itu mengirim utusan menyuruh Singhasari (sebelum Malang, Jawa Timur) yang menguasai sebagian besar Nusantara, agar tunduk, atau dijajah.

Utusan itu, dipotong telinganya oleh Raja/Prabu Kertanegara. Utusan itu diusir pulang ke Tiongkok. Menyampaikan penolakan Nusantara.

Di saat yang sama, Singhasari sedang mengirim banyak Jenderal dan pasukan ke seluruh Nusantara. Menyatukan Nusantara bahkan sampai Selat Malaka (Ekspedisi Pamalayu). Wilayahnya adalah seluruh Jawa, Bali, sebagian besar Sumatra, seluruh Kalimantan. Dan bersekutu dengan Kerajaan Campa, kekuatan lain di Asia Tenggara.

Patih legendaris Singhasari lama, Maha Patih Arya Wiraraja diganti, dan dia menyepi ke Sumenep, Madura, mendapatkan tanah besar dan Keraton di sana. Penggantinya, masih belum berpengalaman. Dan wilayah Singhasari pusat dijaga sedikit tentara saja.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Singhasari

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kertanegara_of_Singhasari

Memanfaatkan kekosongan ini, Jayakatwang atau Raja Muda Gelang-gelang dari Kadiri (Kediri) menyerbu Singhasari. Mengkudetanya. Cukup lancar, karena pasukan besar Singhasari banyak di luar pusat kerajaan. Raja Kertanegara, pun meninggal dunia, dibunuh.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jayakatwang

Nararya Sanggramawijaya atau Dyah Wijaya atau populer kini sebagai "Raden Wijaya" putra seorang Pangeran Singhasari - yang diduga saat itu sudah mengenal Islam namun belum Muslim - menyelamatkan 4 Putri Raja Kertanegara, dan sejumlah bangsawan pasukan, ke Mahapatih yang sudah menyepi yakni Arya Wiraraja, di Sumenep, Madura.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya

Seiring waktu, Arya Wiraraja menyarankan Raden Wijaya menyerah ke Jayakatwang. Dan ini diturutinya. Dan dia menyatakan tunduk kepada pemerintahan Kadiri.

Raja Kadiri pun senang. Dan menuruti permintaan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Thoriq (Tarik), di Majakerta (Mojokerto). Sebagai hadiah untuknya.

Di saat membuka lahan di wilayah Mojokerto kini itu, datanglah pasukan besar utusan penguasa Tiongkok dan sekitarnya saat itu, Kubilai Khan, hendak menghukum Raja Nusantara (Singhasari) dan menguasai Nusantara. 

Mereka tidak tahu, bahwa Raja Kertanegara sudah meninggal dikudeta Raja Kadiri. 

Ketidaktahuan ini, dimanfaatkan Raden Wijaya dan pasukannya. Juga mereka yang telah kembali dari aneka ekspedisi merantau utusan Raja Kertanegara dan menemukan Raja Kertanegara dikudeta Raja Jayakatwang.

Bersama pasukan Tiongkok, mereka menyerbu Kadiri. 

Raden Wijaya memanfaatkan juga pasukan militansi rakyat hasil mobilisasi. Termasuk pasukan mantan perampok, pembunuh, pemerkosa, penjahat, kaum kasar, yang banyak bermukim di Hujung Galuh (Surabaya kini). Raden Wijaya menjanjikan amnesti, pengampunan, dan hadiah, jika mereka ikut berjuang. Catatan: ini juga menjelaskan mengapa Arek Suroboyo sejak dulu dikenal kasar, bahkan agak brutal. Namun semakin tertib sejak mendapatkan pelajaran keislaaman, misalnya dari Maulana Malik Ibrahiim, Sunan Giri, Sunan Ampel.

Matilah Raja Kadiri, maka, diserbu mereka.

Saat tentara Tiongkok/Mongol itu berpesta-pora bermabuk-mabukan merayakan kemenangan, pasukan Raden Wijaya menyerbu mereka.

Pertempuran hebat terjadi. Dan pasukan Tiongkok yang tak menduga ini, diusir mundur sampai ke Tiongkok.

Dan setelahnya kerajaan Majapahit berdiri, Raden Wijaya menjadi raja pertamanya. 

Wilayahnya berkembang amat luas, bahkan menurut beberapa ahli sejarah, sampai ke Malaya (Malaysia dan Brunei kini), Filipina kini, Kampuchea (Kamboja), dst bahkan sampai sebagian Pasifik-Polynesia. Ini juga di kemudian hari yang menjadi dasar berdirinya Indonesia. Bahkan hasrat  Presiden Ahmad Sukarno merebut Irian Jaya (Papua), dan hendak merebut Malaysia, yang sebenarnya adalah memang wilayah Majapahit.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Majapahit

Hingga setelah beberapa generasi, seiring dengan meluasnya da'wah Islaam di Jawa, utamanya di masa Wali Sanga yang berda'wah di Jawa (setelah sebelumnya ada banyak usaha mengislaamkan Nusantara bahkan sejak masa pemerintahan Kholifah Utsman bin Affan RA yang mendarat di Rembang dan kontingen Muslimiin lainnya di berbagai daerah Nusantara), dan semakin banyaknya kalangan yang masuk Islam, maka tahta berganti ke kerajaan Demak.

Lalu menjadi era Kerajaan Pajang, Jipang, Mataram Islaam, Yogyakarta, Solo, dst. 

Bangsa Nusantara juga berhadapan dengan penjajah dari Portugis, Belanda, Jepang, dll.

🇮🇩 Kembali ke hal kekalahan Tiongkok 🇮🇩:

Di antara beberapa patih (panglima) yang memimpin diusirnya Tiongkok-Mongol dari Nusantara ini, adalah Patih Lawe atau Rangga Lawe. Putra dari Maha Patih Arya Wiraraja, yang membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri dan Tiongkok-Mongol.

Patih Rangga Lawe berbasis di Tuban, Jawa Timur. 

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ranggalawe

Kepahlawanannya dalam perang, melegenda. Mengharumkan Tuban.

Tuban, juga adalah daerah basis kaum Muslimiin, setelah Islaam menyebar di Jawa.

Maka, wajar juga, jika banyak pihak Kebangsaan, Nasionalis, Umum, Muslimiin, yang bertanya dan gelisah:

🔹"Mengapa patung Panglima Perang Tiongkok (yang saat itu dikuasai Mongol) yang menyerbu Nusantara, justru dipasang amat besar (sekitar 30 meter, tingginya), di Tuban?"

🔹"Macam diberhalakan pula?"

🔹"Ditaruh di tempat 'persembahyangan'?

🔹"Sementara telah ada penolakan pematungan, pemberhalaan ini, justru dari Generasi Muda Khonghucu? https://m.tempo.co/read/news/2017/08/08/058897986/generasi-muda-khonghucu-tolak-patung-di-kelenteng-tuban-sebab

🔹"Apalagi, mengapa waktu kini? Saat pengaruh Republik Rakyat Cina (RRC) menghebat di Asia dan Indonesia? Dan mereka - RRC - sedang kesulitan sumber daya alam, sementara Indonesia Raya amat kaya sumber daya alamnya?

🔹"Mengapa wakil pihak pemerintah begitu cepat turun-tangan sampai menginstruksikan Kapolri membela berdirinya patung Panglima Perang Tiongkok penyerbu Nusantara ini?"

Ada apakah, sebenarnya?

...

Akhir kata, ingatlah semboyan para Pejuang Pahlawan, leluhur kita di NEGARA Kesatuan Republik Indonesia ini, yang kaum MUSLIMIIN INDONESIA - dengan dibantu Palestina, Mesir, dan Arab Saudi saat itu -  adalah pemegang Saham terbesar Kemerdekaan Republik Indonesia yang dicapai di bulan Ramadhan tahun 1945, alias 17 Agustus 1945:

'ISY KARIIMAN AU MUT SYAHIIDAN! HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHIID!

MERDEKA!! ATAU MATI!!! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

0 comments:

Post a Comment

Month's Visit