Oleh: Ustad Alfian Tanjung
Paska keluarnya TAP MPRS No. XXV/1966 yang menyatakan PKI sebagai Partai dan organisasi teralarang, orang-orang yang pernah terlibat dengan PKI terbagi menjadi dua. Pertama, PKI yang ada di Indonesia. Mereka terdiri dari tiga kelas; A, B, dan C. Masing-masing sesuai dengan kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Golongan A adalah mereka yang memiliki kesalahan yang paling fatal dan mereka telah dieksekusi. Golongan B, yaitu mereka yang melakukan kejahatan kelas menengah, oleh Orde Baru mereka diasingkan ke Pulau Buru. Oleh kader PKI, Pulau tersebut dijadikan judul film propaganda mereka. Adapun golongan C, yaitu kader PKI yang mendukung aksi-aksi PKI. Jumlah mereka banyak dan berkeliaran dimana-mana. Mereka berpindah-pindah, bersembunyi dan bahkan mengganti identitas.
Kedua, orang-orang PKI yang berada di luar negeri. Setidak-tidaknya mereka melakukan tiga kegiatan, diantaranya adalah mereka yang tetap mengurus partai dengan semangat bahwa PKI tidak pernah dibubarkan. Kedua, mereka melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi di berbagai universitas luar negeri. Seperti di Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, maupun China. Banyak di antara mereka ada yang telah menjadi doktor dan profesor. Terakhir adalah mereka yang bergerak di bidang bisnis.
Baik PKI dalam negeri maupun PKI luar negeri, mereka saling terhubung dan bekerja sama demi kebangkitan PKI di masa mendatang. PKI yang berada di dalam negeri bertugas mencari kader untuk kemudian dikirim ke luar negeri. Sementara PKI yang berada di luar negeri bertugas menyambut dan mengurus kader PKI yang berasal dari Indonesia. Sehingga ketika para kader PKI ini kembali ke Indonesia, mereka telah menjadi kader-kader tangguh yang nantinya menjadi mentor bagi kader PKI Indonesia.
Untuk mempertahankan eksistensinya, PKI memiliki jurus yang mereka sebut sebagai KKM. Yaitu Kemampuan Kerja di Kalangan Musuh. Kendati pintu politik telah ditutup bagi mereka, namun dengan KKM yang dipadu dengan kamuflase yang sempurna, mereka berhasil memasuki berbagai instansi pemerintahan di indonesia.Tak tanggung-tanggung, jabatan mentereng pernah mereka raih. Sebut saja Sudarmono, di zaman ORBA, tokoh PKI tulen tersebut berhasil menduduki kursi wakil presiden Indonesia.
Pasca revormasi, PKI seolah-olah mendapatkan angin segar. Berbagai aturan yang selama ini melarang PKI memasuki birokrasi dihapuskan. Terutama setelah keluarnya Undang-Undang Pemilu nomor 12 tahun 2003. Dimana pasal 60 G memuat adanya kebolehan orang-orang yang berideologi PKI menjadi apa saja di DPRD, DPR RI, legislatif, yudikatif, atau bahkan eksekutif.
Masuknya kader PKI ke berbagai instansi pemerintahan tentu memiliki tujuan yang tidak bisa diremehkan. Di antaranya adalah menghapus jejak hitam PKI. Menyatakan bahwa PKI tidak bersalah. Sebisa mungkin mereka menekan pemerintah agar meminta maaf kepada PKI. Tuntutan tersebut tidak mungkin keluar kecuali jika jumlah mereka telah terlampau banyak dan kekuatan telah berlipat ganda. Padahal permintaan maaf memiliki konsekuensi logis; meminta maaf berarti mengakui kesalahan. Jika sudah demikan, maka mau tidak mau umat Islam dan TNI yang dulu menjadi korban keganasan PKI akan menjadi pihak yang bersalah. Sebuah pemutar balikan fakta yang amat keji.
Dalam pengkoordinasian kekuatan, setidaknya PKI menggunakan tiga pola utama. pertama, pola resmi. Yaitu dengan menggunakan nama dan lambang PKI asli. Beberapa kali telah menggelar kongres. Kongers ke-8 pada tahun 2000 di Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Kongers ke-9 tahun 2005 di Cianjur Selatan. Dan yang terbaru adalah kongres ke-10, 15-17 Agustus tahun 2010 di Magelang.
Kedua, PKI Gaya Baru. Yaitu dengan menggunakan nama samaran dan lambang yang berbeda, padahal inti mereka adalah sama. Pola seperti ini diwakili oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko. Pada tanggal 24-26 maret 2015 PRD telah melakukan kongres yang ke-8 di Hotel Akasia, Jakarta Pusat. Dari kongres tersbut terbitlah sebuaah AD/ART PRD yang sama dengan AD/ART PKI.
Ketiga, kelompok romantisme. Yaitu golongan tua yang terbakar api dendam dan kebencian. Selain karena alasan ideologi, mereka disatukan oleh omosi dan perasaan. Rata-rata usia mereka antara 70 dan 80 tahun ke atas. Mereka dianggap sebagai pahlawan ideologi oleh kader PKI, dan dipercaya untuk memberikan penjelasan tentang doktrin marxisme, sosialis dan ateisme.
Belitan PKI di Istana Negara bukan isapan jempol belaka. Keberadaan mereka bagaikan matahari di siang bolong. Sebut saja Teten Masduki, kader PKI asal Garut, Jawa Barat, sekarang menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia. Padahal telah kita ketahui berseama bahwa tugas Staf Kepresidenan adalah memberi dukungan dan mengarahkan Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan pengendalian program-program prioritas nasional, dan pengelolaan isu strategis.
Dita Indah Sari, seorang Gerwani muda PKI. Dalam dua priode berturut-turut, Ia menjabat sebagai staf ahli di Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Padahal pada tahun 1996 ia memiliki catatan hitam. Ia pernah ditangkap oleh polisi atas gerakan politiknya. Dalam catatan harian bertanggal 16 April 1996 yang berhasil diamankan oleh polisi, di sana tertulis, “Well, partai kita yang telah dibubarkan 31 tahun yang lalu, akan kita hidupkan lagi.”
Dan selanjutnya adalah Ribka Ciptaning, anggota DPR dari PDI Perjuangan yang datang dari Sukabumi Selatan, dimana daerah itu telah menjadi tempat diselenggarakannya kongres PKI ke-8. Dia pula yang menuliskan buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.
Kehadiran kader PKI ke dalam panggung politik membawa dampak yang sangat meresahkan bagi masyarakat. Misalnya, keluarnya himbauan kepada orang yang berpuasa agar toleransi kepada orang yang tidak berpuasa, rencana penghapusan kolom agama dalam kartu identitas warga, dan pelarangan pembacaan doa ketika membuka atau menutup kegiatan belajar dan mengajar di sekolah-sekolah formal. Semua itu tidak lain merupakan cermin dari ideologi komunis yang menjadi program mereka.
Selain menargetkan Istana Negara, mereka juga telah menguasai birokrasi kepemerintahan. Mulai dari Gubernur, Bupati, Camat, Kades, sampai Ketua RT. Semua itu dilakukan dalam rangka mensukseskan terbentuknya Negara Demorasi Komunis Indonesia. Terbukti beberapa kepada daerah berani mengutak atik Syi’ar-Syi’ar Islam yang telah membudaya bagi rakyat Indonesia.
Di jakarta misalnya, Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Jakarta yang akrab dipanggil Ahok, beberapa kali mengeluarkan surat edaran yang kontroversial. Yang tidak hanya menyakitkan hati warga yang Jakarta, tapi seluruh warga indonesia. Di antaranya adalah larangan untuk Takbir Keliling, larangan memakai jilbab di sekolah negeri, larangan pengajian di Monas, larangan kurban di masjid atau sekolah.
Sayangnya, ketika media mencoba menuturkan fakta-fakta tentang kebangkitan PKI, banyak dari kalangan umat islam Sendiri merasa ceuk, atau bahkan lebai dan mengada-ngada. Padahal fakta telah terpampang jelas di depan mata. Satu hal yang harus dijawab, “Haruskah leher umat Islam dipotong terlebih dahulu, baru mereka percaya?”
Namun, sebagai umat Islam tidak ada kata untuk menyerah, banyak hal yang bisa dilakukan. Antara lain; pertama, mengedukasi umat tentang bahaya dan realita kebangkitan PKI. Media memiliki tanggung jawab yang besar dalam membendung gerak laju PKI. Kedua, membentuk tim kecil yang fokus meneliti, mengkaji, membahas dan melaporkan perkembangan PKI. Ketiga, menghilangkan faktor-faktor pemicu tumbuhnya PKI. Seperti ketidakadilan, pengangguran, kapitalis, dan lain sebagainya.
Editor: Sahlan Ahmad (Majalah Islam An-Najah)
YTH. SELURUH AKTIVIS ISLAM.
ASSALAMU ALAIKUM WR.WB.
Memperhatikan :
1). Merosotnya dukungan masyarakat terhadap PDIP, yg dibuktikan dg kalahnya sekitar 47 paslon dari atau yg didukung PDIP di seluruh Tanah air.
2). Reaksi keras Megawaty Sukarno Putri terhadap isu PDIP sebagai sarang (atau berideologi) PKI, dengan mengeluarkan bantahan dan klarifikasi tentang ideologi PDIP yg disebutnya sebagai idologi Pancasila dengan semangat 1Juni 1945.
Maka, dapatlah kita simpulkan bahwa Isu PKI dan anti Islam sangat ampuh untuk merontokkan partai ini.
Satu karakter yg tak terbantahkan dari PKI adalah bahwa mereka memusuhi Islam dan memusuhi Ulama. Pidato Megawaty di acara 44 tahun PDIP dan perilaku pejabat negara dukungan PDIP sangat jelas memusuhi Ulama dan melecehkan islam.
Oleh karena itu, saya menghimbau semua aktivis pergerakan Untuk lebih produktif menulis, dalam bentuk apa pun, tentang PDIP-PKI-ANTI ISLAM DAN ULAMA.
Selogan "BELA ISLAM, BELA ULAMA DAN GANYANG PKI SAMPAI KE SARANGNYA" atau "CUMA PKI YG MEMUSUHI ISLAM DAN ULAMA", atau, MUSUH UTAMA ISLAM DAN NKRI ADALAH PKI, dll. perlu disebar secara massive.
Dengan memviralkan isu seperti ini, kita berharap dapat membalikkan stigma negatif tentang Islam. Kalau selama ini UMMAT Islam ditakut-takuti dg isu teroris, fundamentalis, keras, radikal dls., maka kali ini kita balikkan menjadi : setiap yg menghina Islam, memusuhi Islam, melecehkan dan merendahkan ulama serta ajaran Islam adalah PKI dan dia adalah musuh negara yg harus diperangi.
Sejarah fusi dari mana PDI(P) terbentuk (PNI, PARTAI KRISTEN INDONESIA, Parkindo Partai Katolik, Murba) juga perlu diviralkan sebab generasi baru tak pernah tau hal ini...
Demikian, tks mudah-muhan mendapat sambutan para aktivis semua.
DR.IR. MASRI SITANGGANG
KETUA UMUM GERAKAN ISLAM PENGAWAL NKRI (GIP-NKRI).
PENGAMAT: ADA TUJUH FAKTA BAHAYANYA PDIP BERKUASA
Pengamat Hukum dan Politik dari The Indonesian Reform, Martimus Amin, SH mensinyalir tujuh fakta berbahayanya PDIP berkuasa. Ketujuh fakta ini nyata terasa hari ini.
Sebagaimana diketahui, seusai reformasi, PDIP telah dua kali berkuasa. Pertama, pada saat rezim Megawati. Kedua, saat ini, yaitu rezim Jokowi yang merupakan kader PDIP.
Apa saja tujuh fakta tersebut? Martinus menyatakan sebagai berikut:
1. Asset negara dijual
Fakta yang terkenal adalah Indosat dijual ke Singapura dan Blok Gas Tangguh dijual ke China. Kedua fakta itu terjadi pada masa Megawati. Sekarang ditengarai, BUMN di sektor keuangan dijual juga ke China dengan kedok penambahan modal.
2. Korupsi dan a-susila merajalela
Korupsi saat ini terjadi demikian merajalela. KPK justru mandul atau dimandulkan.
3. Premanisme & anarkis dimana-mana
Premanisme dan anarkis merajalela. Penyidik KPK, Novel Baswedan merupakan korban dari premanisme yang hingga saat ini seolah dibiarkan bebas. Sedangkan anarkisme yang terjadi pada saat penghadangan Sobri Lubis di Kalimantan Barat dan Fahri Hamzah di Manado, juga dibiarkan oleh rezim PDIP yang gubernurnya adalah kader PDIP
4. Komunisme bangkit
Pada saat PDIP berkuasa, iklim gerakan komunisme dihidupkan. Akibatnya para penganut ideologi komunis bebas berpropoganda ke masyarakar yang akibatnya membuat suhu politik meningkat panas.
5. Orang kafir petantang-petenteng
Berikutnya orang yang tidak beriman kepada Allah menurut orang Islam atau disebut Kafir, petantang-petenteng. Mereka menunjukkan aktivitas kafir seperti menghina Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw. Anehnya aktivitas kekafiran ini seolah dilindungi rezim PDIP.
6. Islam diobok-obok
Seperti halnya membiarkan kekafiran, implikasinya tentu saja akan mengobok-obok Islam. Islam dibenturkan satu sama lain. Isu Islam radikal dan moderat diproduksi oleh intelijen kemudian dibenturkan satu sama lain. Ini hanya ada di rezim PDIP.
7. Ulama dizalimi
Ulama dikriminalisasi. Zaman Megawati yang juga dari PDIP, ulama sepuh Abu Bakar Baasyir dikriminalisasi dan diperlakukan kasar hingga dirawat di rumah sakit saat itu.
Saat Jokowi berkuasa, ulama kembali jadi target. Saat ini Muhammad Al-Khattat masih ditahan. Habib Rizieq dikejar dan diintimidasi. Akibatnya Habib Rizieq, mengasingkan diri di Arab Saudi.
Sebenarnya terdapat satu lagi fakta berbahaya berkuasanya PDIP. Di zaman Jokowi, aktivitas separatisme dan subversif terhadap NKRI dibiarkan. Papua dan Minahasa menuntut merdeka dibiarkan tanpa tindakan tegas.
Semua fakta berbahaya di atas hanya ada di masa ketika PDIP memegang pucuk pemerintahan. (zs)
AKHIRNYA APA YG DI SAMPAIKAN USTAD AL FIAN TANJUNG TERBUKTI . PKI ITU MULAI BANGKIT DI BAWAH PIMPINAN JOKOWI PKI
DIMANA TNI & POLRI ... ???!!!
Rekaman malam tadi minggu 17-9-2017 (malam senin)
Sejumlah massa eks PKI melakukan seminar pelurusan sejarah 1965,
Dua hari sebelumnya ummat islam dari berbagai ormas menolak seminar PKI tersebut namun tidak di gubris,
Gedung LBH akhirnya di kepung ummat dari berbagai wilayah,namun polisi menjaga seminar PKI dengan ketat,
Massa mulai marah ketika menjelang malam dari gedung LBH terdengar nyanyian genjer genjer dan sorak sorai PKI terdengar nyaring keluar gedung,
Polisi sangat aneh ketika kejahatan PKI dengan nyata di depan mata tapi tidak ada tindakan hukum apapun,
Tengah malam massa sedikit tenang setelah orasi orasi dari ulama,jawara bamus betawi,pak natalius pigai,pangda fpi dki jakarta dan lainnya,
Namun menjelang dinihari salah se'orang peserta seminar keluar gedung memakai atribut PKI namun lagi lagi polisi melindungi mereka yang jelas2 melanggar hukum,
1. KUHP pasal 107 a :
Larangan penyebaran paham PKI dengan sanksi penjara 12 tahun.
2. KUHP Pasal 107 b :
Larangan pembentukan Ormas PKI dengan sanksi penjara 12 tahun.
3. KUHP pasal 107 c, d & e :
jika timbulkan kerusuhan dengan sanksi penjara 20 tahun.
Kenapa POLRI masih membiarkan berbagai kegiatan pertemuan,
Ketika massa marah polisi menembaki massa membabi buta tidak hanya dengan gas airmata tapi juga dengan peluru karet,
Dan korbanpun berjatuhan,
Catat baik baik tanggal dan harinya,seluruh peserta demontrasi semalam adalah saksinya
Bahwa:
-PKI telah bangkit dan rezim jokowi adalah andil besar dalam kebangkitan mereka
-apa yang dikatakan ustadz Alfian tanjung benar adanya,20 juta anak-anak PKI sudah siap siaga
-malam tadi adalah awal kebangkitan gerakan komunis,sedangkan persiapan kebangkitan komunis sudah dimulai sejak masa reformasi 1998
-ancaman nyata terhadap NKRI sudah nampak,dan musuh kita sudah berani menampakan diri,
BERSIAPLAH PARA MUJAHID ALLAH SWT,
MASANYA SEGERA TIBA DIMANA HARI-HARI KITA BERNILAI SURGA,
IKHLASKAN NIAT KARENA ALLAH SWT,TIDAK PATUT BAGI KITA BERBANGGA-BANGGA,JAUHI SEGALA MAKSIAT,DEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT,DAN SIAPKAN JIWA RAGA KITA MENUNGGU KOMANDO JIHAD ULAMA & HABAIB,
WALLAAHI SIAPAPUN YANG MENGANGGAP ENTENG MASALAH INI,DAN TIDAK MAU TURUN ANDIL MENYELAMATKAN NEGARA,
MAKA IA MENANGGUNG DOSA BESAR ATAS BANGKITNYA KOMUNIS,
BERSIAPLAH...
ALLAAHU AKBAR
ALLAAHU AKBAR
ALLAAHU AKBAR...
#SEBARKAN..
bagus, Silakan lihat! https://faktakita.net/berita-hari-ini/terbukti-pdip-berfaham-komunis/
PDIP SARANG PKI
Sebelumnya, Sri Bintang Pamungkas pernah meminta agar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibubarkan.
Alasan dia meminta agar PDIP dibubarkan, lantaran partai besutan Megawati Soekarnoputri itu beraroma komunis.
"Alasan saya karena PDIP memilihara komunis. Komunis kandilarang. Memelihara paham komunis itu dilarang," kata Sri Bintang di Gedung DPR, jalan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (16/5/2017).
Sri Bintang menyebut salah satu kader PDIP yang berpaham komunis, yakni Ribka Tjiptaning.
"Contoh kecil aja Ribka Tjiptaning. Tapi masih ada yang lain," tandasnya. Ribka merupakan anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuanga







0 comments:
Post a Comment