Ngarep Sama Allah

Sunday, April 15, 2018

KEBERKAHAN MAKANAN ADALAH DI SISA TERAKHIR

Dari Jabir bin 'Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

"Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan setan."
 HR. Muslim no. 2033

Nabi kita yang mulia, selalu menghabiskan makanan beliau, bahkan sampai menjilati jari-jarinya. Demi apa? Demi mendapatkan berkah dari makanan itu. Jadi dengan menghabiskan makanan yang tersaji di depan kita, kita sebenarnya mendapat 2 keuntungan. Pertama, mendapat pahala karena mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kedua, mendapat berkah dari makanan yang kita makan.

Saya pernah membaca sebuah buku berjudul "Bocah Penjinak Angin", buku ini menceritakan tentang masa kecil seorang anak di Malawi. Sebuah negara kecil di Afrika. Si "Bocah Penjinak Angin" dan keluarganya ini sampai-sampai pernah hanya makan tiga suap jagung setiap hari. Penduduk Malawi yang lebih miskin, bahkan hanya makan ampas dari kulit ari jagung (bukan jagungya!). Asal tau saja, Malawi ini banyak penduduk muslimnya dan negeri itu sering dilanda kelaparan. Pernahkah kita berpikir? Apa jadinya kalau kita ditakdirkan Allah lahir sebagai muslim di Malawi? Masih mau buang-buang makanan?.


Kalau kita yang melek internet, yang bisa mengakses informasi setiap hari, yang mengetahui di luar sana masih banyak yang kelaparan, tapi masih ada yang suka buang-buang makanan, mungkin  ini bisa disebut "pendosa sosial". Orang-orang yang menanggung dosa sosial, karena tidak bersyukur dengan keadaan sendiri, dan tutup mata dengan keadaan orang lain. 

Makanan disajikan ke hadapan kita itu dengan proses kerja keras…

Anggap saja malam nanti kita  majan dengan menu : nasi, sayur sop, ikan tenggiri goreng dan sambal.

Pernah ga melintas dalam pikiran kita?

Nasi yang kita makan itu asalnya dari beras yang ditanam petani dengan susah payah. Beras itu asalnya dari padi. Padi itu untuk bisa tumbuh, ditanam dulu manual satu-satu. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang dalam kondisi berpuasa, lapar dan haus, panas terik, di luar sana, bekerja sebagai buruh tani, menanam padi itu untuk kita makan. Belum lagi harus nyabutin rumput-rumput pengganggu, belum lagi kasih pupuknya dst.

Lalu sayurnya? Sayur yang ditanam itu proses tanamnya tidak kalah susah. Salah sedikit sayur-sayur itu habis dimakan hama. Bagaimana dengan ikannya? Ikan yang diambil di laut itu sungguh-sungguh penuh perjuangan. Bapak-bapak nelayan (apalagi yang modalnya perahu kecil) bertaruh nyawa kalau mereka melaut. Pernah bayangin? ombak kenceng, langit mendung, dan mereka harus cari ikan untuk dapat penghasilan. Setelah ikan-ikan itu sampai di piring kita, ada yang dengan tega tidak menghabiskannya,...?

Selanjutnya, Ibu kita berbelanja di pasar. Membeli beras, sayur dan ikan tadi. Ibu kita masak dengan kasih sayang, dengan tulus. Lalu siapa yang dengan seenaknya kita tidak menghabiskan makanan hasil karya Ibu kita? 

Kalau yang makannya di rumah makan atau selain masakan Ibu, bayangin aja tukang masaknya....

Nah, bila menyisakan satu butir saja nasi di piring, sementara jumlah penduduk Indonesia adalah 250 juta, bila satu orang menyisakan satu butir sekali makan, maka sekali makan terkumpul 250 juta butir beras. Berapa ton itu? Apalagi lebih dari satu butir. Sungguh indah tuntunan Islam yang mengajarkan bahwa keberkahan makanan adalah di sisa terakhir...

0 comments:

Post a Comment

Month's Visit