Masih terkait dengan materi yang kemarin saya sharing, yaitu tentang perisai rezeki. Jadi sebenarnya jika rezeki kita terbatas, itu bukan berarti Allah ngga ngasih rezeki, tapi karena kita sendiri yang memasang benteng/perisai yang menyebabkan rezeki tidak sampai pada kita. Kita terlalu cinta sama dosa-dosa kita sehingga itulah yang menjadi penghalang rezeki.
Mungkin selama ini kita mikir kalau ngga hidup sama dosa, maka ngga seru, kalau ngga hidup sama dosa, maka ngga keren, ngga gaul dan seterusnya.
Padahal, jika kita mau melepaskan perisai itu, maka rezeki tentu akan datang. Allah akan tambahkan harta-harta bagi orang-orang yang betul-betul melepaskan perisainya.
Bulan Ramadhan, sejatinya adalah bulan yang sangat erat kaitannya dengan konsep rezeki ini. Karena pada bulan Ramadhan, Allah menjanjikan gelar takwa bagi orang-orang yang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya dengan sebaik-baiknya. Dan bagi orang yang bertakwa, Allah telah menjanjikan rezeki yang berlimpah ruah. Rezeki yang datang seperti air bah, seperti banjir. Rezeki yang datang dari jalan yang tak terduga. Itu yang Allah janjikan bagi orang yang bertakwa.
Selama ini mungkin kita mengira bahwa pahala yang dijanjikan kepada umat Islam hanya sebatas pahala di akhirat semata, tak terkait dengan kehidupan di dunia. Padahal sesungguhnya, di dunia pun Allah menjamin rizkinya. Sekali lagi Allah menjamin rizki di dunia bagi orang-orang yang bertakwa. Janji ini ada dalam ayat Alquran.
Bagi orang yang bertaqwa, Allah janjikan Yursilis sama'an 'alaikum midroro, wayumdidkum bil amwal. Dan Allah tambahkan harta-harta, anak-anak (yang bukan hanya berarti anak-anak biologis semata, tapi juga anak-anak perusahaan, kebun-kebun dan sebagainya).
Bukan berarti kita ngga bekerja, tapi seharusnya pekerjaan kita tak boleh melalaikan kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah SWT. Kerja kita bisa diibaratkan sebagai cicak yang diam-diam merayap di dinding. Diam-diam merayap, lalu nyamuk (rezeki) pun datang. Jika pun cicak jatuh, ia akan diam-diam merayap lagi, tentu nanti akan ada nyamuk yang datang.
Masjid sepatutnya ramai, sementara kerja hanyalah selingan untuk menunggu saat sholat tiba.
Rezeki itu bisa juga diibaratkan sebuah permen. Permen pasti ada bungkusnya. Ketika kita diberi orang sebuah permen tanpa bungkus, apakah kita mau menerimanya? Tentu kita tak mau, kan?
Padahal ketika kita diberi permen yang ada bungkusnya, lalu permen itu akan kita makan, bungkusnya ya kita buang. Seperti itulah rezeki. Rezeki memerlukan bungkus. Bungkusnya rezeki adalah *ujian, musibah, cobaan* dan seterusnya.
Maka, apakah kita masih menolak bungkusnya rezeki?
Diary Garputala








0 comments:
Post a Comment