Gang Dolly, kompleks prostitusi terbesar se Asia Tenggara dg 9.000 pelacur, ditutup oleh walikota Surabaya Tri Rismaharini pada Juni 2014. Hotel Alexis, jg ajang prostitusi, ditutup oleh Gubernur DKI Anies Baswedan. Kok bisa.? Apa mereka tidak takut dg ancaman atau akibat lebih buruk dari penutupan itu, yg sengaja dihembuskan oleh pihak2 yg menentangnya.?
Selain punya niat kuat dan berani, keduanya memegang kekuasaan sbg pejabat. Mereka diberi kewenangan yg a.l. digunakan utk menutup tempat maksiat itu. Melalui proses politik, mereka berhasil menduduki jabatan sbg kepala daerah.
Seribu ulama, dai, dalam khotbah2 mereka mungkin sdh ribuan kali menyerukan penutupan tempat prostitusi tsb. Tidak mempan. Tempat melepas birahi tsb tetap beroperasi. Mengapa? Karena mrk bukan pemegang kekuasaan. Mereka tdk punya kemampuan utk mewujudkannya. Hal itu memperkuat apa yg dulu dikatakan oleh khalifah Ustman bin Affan R.A.,
*"Sesungguhnya Allah mencegah dg kekuasaan apa yg tidak bisa dicegah dengan al-Qur'an."*
Banyak orang yg alergi berpolitik. Ini karena mrk termakan pemahaman keliru bahwa politik itu kotor, tidak beretika dan amoral sehingga harus dijauhi. Orang2 tampak menghalalkan segala cara utk meraih kekuasaan. Dulu ada jargon: Islam yes politik no, yg jg mempengaruhi sikap banyak orang. Risma dan Anies adalah contoh pentingnya meraih kekuasaan melalui proses politik.
Ketika Mustapha Kemal menjadi orang nomor satu di Turki pada 1923, dia menerapkan kebijakan anti-Islam, a.l.
1. Mengubah Turki dari negara yg berazaskan Islam menjadi negara sekuler.
2. Melarang adzan dlm bahasa Arab dan hrs dlm bahasa Turki.
3. Melarang penerbitan dan peredaran al-Qur'an dlm bahasa dan tulisan Arab, memaksa Kitab Suci ini dicetak dlm bahasa Turki dg huruf latin.
4. Melarang perempuan memakai jilbab dan mendorong mrk berpakaian ala Barat.
5. Menutup masjid2 dan melarang sembahyang berjamaah.
Apa kita mau dipimpin oleh presiden, atau gubernur, bupati, walikota spt Mustapha Kemal.?
Menurut ulama terkemuka Imam al-Ghazali,
*"Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya."*
Segala sesuatu yg tidak berpondasi, ujarnya, niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yg tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap. Warga muslim Uni Soviet, negara komunis yg dulu begitu perkasa lalu runtuh ber-keping2, sdh membuktikan hal itu.
Seandainya kudeta komunis G-30-S/PKI pada 1965 berhasil, kita tdk bisa bebas beribadah spt sekarang. Masjid2 ditutup, diubah fungsinya atau dihancurkan. Beribadah dilarang dan mereka yg ketahuan melakukannya akan dihukum penjara atau dibunuh. Para ulama akan disingkirkan, dipenjara dan dibunuh. Begitu yg terjadi bila PKI/pemimpin komunis berkuasa.
Fakta2 di atas hendaknya membuka mata kita ttg pentingnya berpolitik dan memegang kekuasaan. Contoh: Recep Tayyip Erdogan, yg kini memimpin Turki dgn partainya yg berazaskan Islam, berhasil melakukan perubahan besar, a.l.
1. Mengangkat Turki sbg kekuatan ekonomi dunia No. 111 menjadi No. 16.
2. Pertumbuhan ekonominya rata2 sebesar 10%/thn selama 10 th sehingga masuk dlm kelompok negara maju G-20.
3. Memakmurkan rakyat, dari pendapatan perkapita 3.500 dollar menjadi 11.000 dollar dlm waktu 10 thn.
4. Nilai ekspor yg dulu cuma 23 milyar dollar kini melonjak jadi 153 milyar dollar/thn.
Berpolitik tidak berarti semua orang Islam jadi politikus, pengurus partai atau legislator. Memperhatikan urusan umat Islam (tidak membiarkan mrk disudutkan, dikambinghitamkan dan dilecehkan) itu sdh berpolitik. Mencoblos dlm pilkada 2018 agar daerahnya dipimpin oleh kepala daerah yg perduli dg Islam itu jg sdh berpolitik.
Kita hrs melek politik. Perhatikan betapa bedanya Turki yg dipimpin Mustapha Kemal dan Tayyip Erdogan. Pegang teguh peringatan seorang tokoh, Nechmetin Erbakan, *"Muslim yang tidak perduli dengan politik maka akan dipimpin politisi yg tidak perduli pada Islam."* Itu sdh terjadi sekarang di Indonesia. Apa kita mau begitu terus sampai kiamat.??
❤🇮🇩







Betul, jangan sampai kalah kita..
ReplyDelete