_____
Oleh: Irkham Fahmi Al-Anjatani
Mungkin tidak diduga oleh sebagian warga Nahdliyyin dengan apa yg dilakukan oleh Masduki Baedlowi, Wasekjen PBNU, terhadap kiai Rohmat S. Labib (DPP HTI), di salah satu acara tv nasional. Dengan emosional beliau coba melontarkan pertanyaan "basi" kepada kiai Rohmat, "coba tunjukan dalil wajibnya Khilafah di dalam Al-Qur'an ?!." __ Bagaimana mungkin sekelas pengurus pusat PBNU tdk memahami prosedur penggunaan dalil, dalam hal ini adalah terkait wajibnya Khilafah.
Pada tulisan ini saya tdk hendak menjawab apa yg ditanyakan oleh kiai Masduki Baedlowi, karena, bagi saya itu adalah pertanyaan klasik, yg sudah banyak dijawab oleh syabab2 HTI, apalagi di acara itu juga sudah dijawab oleh kiai Rohmat dengan sangat jelas dan gamblang, membuat Wasekjen PBNU itu mati kutu.
Bagi orang2 yg anti Khilafah, dan dia sudah sering berdiskusi dengan syabab2 HTI, niscaya ia tdk akan berani melontarkan pernyataan tersebut. Baginya, menyampaikan pernyataan itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Orang lain akan tau, sebatas mana kualitas pemahamannya terhadap dalil2 Al-Qur'an.
Pada tulisan ini, saya hanya akan menanggapi asumsi Masduki Baedlowi (Wasekjen PBNU), yg menganggap bahwa Presiden itu sama saja dengan Khalifah. Sehingga, tidak usah lagi HTI memperjuangkan Khilafah, karena Indonesia itu sudah Khilafah, di Indonesia sudah ada Presiden, sebagai Khalifahnya.
Untuk menanggapi asumsi tersebut, kiranya cukup bagi saya dengan mengutip pernyataan kiai Said Aqil Siradj (Ketum PBNU) di dalam bukunya, sekitar 17 tahun yg lalu, karena pernyataan tersebut memang pernyataan klasik, dan kiai Said Aqil sudah membantahnya dengan tegas:
"pada sistem Republik didasari pada 'trias politika', eksekutif, legislatif dan yudikatif. ... karena itu, salah besar jika khalifah disamakan dengan presiden," (Islam Kebangsaan; Fiqih Demokratik Kaum Santri, hal. 10. Pustaka Ciganjur).
Jadi, jelaskan ?.. Khalifah dengan Presiden itu beda, apalagi dengan Lurah, RW dan RT. __ Pendapat itu bukan hanya pendapat syabab2 HTI Loh.. tapi juga pendapat Ketum PBNU, yg selalu antum puji-puja.
Dengan begitu, sayapun hendak mengucapkan: " TERIMAKASIH kiai Said, sudah membantah pernyataan Wasekjen antum."
Cirebon, 16 Juli 2017






0 comments:
Post a Comment